Jumat, 26 April 2013

Laporan Praktikum Rumus Bunga dan Diagram Bunga

-->

PRAKTIKUM VII
Topik               : Rumus bunga dan diagram bunga.
Tujuan             : Membuat rumus bunga dan diagram bunga.
Hari / tanggal  : Kamis/11 April 2013.
Tempat            : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP Unlam Banjarmasin.
 

       I.            ALAT DAN BAHAN
A.    Alat
1.      Baki
2.      Alat – alat tulis
3.      Lup
B.     Bahan
1.      Bunga alamanda (Allamanda cathartica L.)
2.      Bunga kertas (Bougainvillea spectabilis)
3.      Bunga anggrek kalajengking (Arachis flos aeri )
4.      Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
5.      Bunga tasbih (Canna sp.)
6.      Bunga teratai (Nymphaea lotus L.)

    II.            CARA KERJA
1.      Menyiapkan alat dan bahan
2.      Membuat rumus bunga dan diagram bunga dari bahan bahan-bahan yang tersedia.

 III.            TEORI DASAR
Bagian tumbuhan yang sering dideskripsikan adalah bunganya. Dalam mendeskripsikan bunga, selain dengan kata-kata, dapat pula ditambahkan dengan gambar yang melukiskan bagian-bagian bunga atau berupa diagram bunga. Kecuali dengan diagram, susunan bunga dapat dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri atas lambang-lambang, huruf-huruf, dan angka-angka yang semua itu dapat memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga berserta bagian-bagiannya.
Diagram bunga
            Diagram bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar dari semua bagian yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-penampang melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik, juga bagian-bagian lain yang masih ada selain keempat bagian utama tersebut.
            Dalam membuat diagram bunga perlu diperhatikan letak bunga pada tumbuhan (axillaries atau terminalis) dan bagian-bagian bunga (jumlah, bentuk, kedudukan) itu sendiri. Pembuatannya sendiri dapat secara empirik (keadaan sesungguhnya ) atau teoritik keadaan seharusnya.
Rumus bunga
            Lambang-lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat-sifat bunga bertalian dengan simetri dan jenis kelaminnya, huruf-huruf merupakan singkatan dari bagian-bagiannya, sedangkan angka menyatakan jumlah masing-masing bagian bunga. Oleh suatu rumus bunga dapat ditunjukkan hal-hal sebagai berikut.
a.       Kelopak (calyx) dinyatakan dengan huruf K
b.      Mahkota atau tajuk (corolla) dinyatakan dengan huruf C
c.       Benang sari (androecium) dinyatakan dengan huruf A, dan
d.      Putik (gynaecium) dinyatakan dengan huruf G.
            Jika antara kelopak bunga dan mahkota bunga tidak dapat dibedakan, untuk menyatakan bagian tersebut digunakan huruf P untuk tenda bunga (perigonium). Penulisan rumus bunga, dibelakang huruf-huruf tersebut ditaruhkan angka-angka yang dapat menyatakan jumlah bagian-bagian bunga tersebut. Antara huruf dan angka diberikan tanda koma (,).
            Di depan rumus bagian bunga, hendaknya di tambahkan simetri yaitu (*) untuk untuk bunga bersimetri banyak, dan tanda (↑) untuk bunga bersimetri satu. Selain lambang yang menunjukkan jenis kelamin bunga. Untuk bunga banci dipakai lambang (♀), untuk bunga jantan dipakai lambang (♂), dan bunga betina dipakai lambang (♀). Untuk menyatakan keadaan antara daun-daun kelopak, tajuk, dan benang sari (berlekatan atau terpisah), digunakan tanda kurung untuk mengapit angka. Sedangkan bakal buah, dinyatakan adanya garis (diatas atau di bawah) angka yang menunjukkan jumlah putik sesuai kedudukannya.

 IV.            HASIL PENGAMATAN
  1. Bunga Allamanda (Allamanda cathartica L.)
                                                                                    Keterangan :
1.  Kelopak bunga (calyx)
2.  Mahkota bunga
(corolla)
3.  Benang sari (androecium)
4.  Putik (gynaecium)

 Menurut Literatur:


Keterangan :
1.      Kelopak bunga (calyx)
2.      Mahkota bunga
(corolla)
3.      Benangsari
(androecium)
4.       Putik (gynaecium)

 








                                                                                                   
                               Sumber : Anonim.a.2013

Rumus bunga : ♀  *K5 C(5)  A5 G1
Diagram bunga :
 













Keterangan :
1.    Kelopak bunga (calyx) = 5
2.    Mahkota bunga (corolla) = 5
3.    Benang sari (androecium) = 5
4.    Putik (gynaecium) = 1

  1. Bunga Kertas (Bougainvillea spectabilis)                
                                                                                  Keterangan :
1.      Mahkota bunga
(corolla)
2.      Benang sari (androecium)
3.      Putik (gynaecium)



 Menurut Literatur:

Keterangan :
1.      Mahkota bunga (corolla)
2.      Benang sari (androecium)
3.      Putik (gynaecium)











           
Sumber : Anonim.b.2013
 

Rumus bunga : ♀ *P(3) A(~) G1
Diagram bunga :
 















Keterangan :
1.    Tenda bunga (perigonium) = 3
2.    Benang sari (androecium) = ~
3.    Putik (gynaecium) = 1

  1. Bunga Anggrek Kalajengking (Arachis flos aeris)
Keterangan:
1.    Tangkai bunga (pedicellus)
2.    Ibu tangkai bunga
3.    Tenda bunga (perigonium)
4.    Benang sari (androecium)
5.    Putik (gynaecium)


     Menurut Literatur:

Keterangan :
1.      Tangkai bunga (pedicellus)
2.      Ibu tangkai bunga
3.      Tenda bunga (perigonium)
4.      Benang sari (androecium)
5.      Putik (gynaecium)












Sumber : Anonim.c.2013



Rumus Bunga   : ♀    P5 A(2) G1
Diagram Bunga:
 













Keterangan :
1.      Tenda bunga (perigonium) = 5
2.      Benang sari (androecium) = (2)
3.      Putik (gynaecium) = 1

  1. Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)

Keterangan :
1.    Tangkai bunga (pedicellus)
2.      Dasar bunga (receptaculum)
3.      Kelopak bunga (calyx)
4.      Kelopak tambahan
5.      Mahkota bunga (corolla)
6.      Benang sari (androecium)
7.      Putik (gynaecium)


                                                                                      








                                                                                   
Menurut Literatur


Keterangan :
1.      Tangkai bunga (pedicellus)
2.      Dasar bunga (receptaculum)
3.      Kelopak bunga (calyx)
4.      Kelopak tambahan
5.      Mahkota bunga (corolla)
6.      Benang sari (androecium)
7.      Putik (gynaecium)

 

















Sumber : Anonim.d.2013

Rumus Bunga   : ♀ * K (5)+(7) C5 A~ G(5)
Diagram Bunga:
 














Keterangan :
1.    Kelopak bunga (calyx) = 5
2.    Kelopak tambahan (epicalyx) = (7)
3.    Mahkota bunga (corolla) = 5
4.    Benang sari (androecium) = ~
5.    Putik (gynaecium) = (5)

  1. Bunga Tasbih (Canna sp)



Keterangan :
1.    Tangkai bunga (pedicellus)
2.      Kelopak bunga (calyx)
3.      Mahkota bunga (corolla)
4.      Benang sari (androecium)
5.      Putik (gynaecium)

 









Menurut literatur

Keterangan :
1.      Tangkai bunga (pedicellus)
2.      Kelopak bunga (calyx)
3.      Mahkota bunga (corolla)
4.      Benang sari (androecium)
5.      Putik (gynaecium)











                                       Sumber : Anonim.e.2013




Rumus Bunga   : ♀ K3 C3 A5 G(3)
Diagram Bunga:












Keterangan :
1.         Kelopak bunga (calyx) = 3
2.         Mahkota bunga (corolla) = 3
3.         Benang sari (androecium) = 5
4.         Putik (gynaecium) = 3

  1. Bunga Teratai (Nymphaea lotus L.)



Keterangan :
1.      Tangkai bunga (Pedicellus)
2.      Dasar bunga (receptaculum)
3.      Tenda bunga (perigonium)
4.      Benang sari (androecium)
5.      Putik (gynaecium)

 











       Menurut literatur


Keterangan :
1.    Tangkai bunga (Pedicellus)
2.      Dasar bunga (receptaculum)
3.      Tenda bunga (perigonium)
4.      Benang sari (androecium)
5.      Putik (gynaecium)

                                                                                   








Sumber: Anonim.f.2013
 

Rumus bunga : ♀  * P4+4+8+8+7  A~ G1
Diagram bunga:
 













Keterangan :
1.      Tenda bunga (perigonium) =  4 + 4 + 8 + 8+ 7
2.      Benang sari (androecium) = ~
3.      Putik (gynaecium) = 1
    V.            ANALISIS DATA
Pada umumnya bunga terdiri dari 4 bagian bunga dan tempatnya berturut turut dari tepi luar bunga bagian tengah kalix (kelopak), corolla (mahkota), andresium (kelamin jantan), ginesium (kelamin betina) (Fahn, 1991). Bunga pada umumnya mempunyai bagian – bagian berikut (Moertolo, 2004):
a.       Tangkai bunga (pedicellus), yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang, padanya seringkali terdapat daun – daun peralihan, yaitu bagian – bagian yang menyerupai daun, berwarna hijau, yang seakan – akan merupakan peralihan dari daun biasa ke hiasan bunga.
b.      Dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar, dengan ruas – ruas yang amat pendek, sehingga daun – daun yang telah mengalami metamorfosis menjadi bagian – bagian bunga yang duduk amat rapat satu sama lain, bahkan biasanay lalu tampak duduk dalam satu lingkaran.
c.       Hiasan bunga (perianthium), yaitu bagian bunga yang merupakan penjelmaan daun yang masih tampak berbentuk lembaran dengan tulang – tulang atau urat – urat yang masih jelas. Biasanya hiasan bunga dapat di bedakan dalam dua bagian yang masing – masing duduk dalam satu lingkaran. Jadi bagian – bagian hiasan bunga itu umumnya tersusun dalam dua bagian antara lain: kelopak (kalix) dan mahkota bunga (corolla).
d.      Alat – alat kelamin jantan (androecium), bagian ini sesungguhnya juga merupakan metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari. Androecium terdiri atas sejumlah benang sari (stamen).
e.       Alat kelamin betina (gynaecium), yang pada bunga merupakan bagian yang biasanya disebut putik (pistilum), juga putik terdiri atas metamorfosis daun yang disebut daun buah (carpella). Pada bunga dapat ditemukan satu atau beberapa putik, dan setiap putik dapat terdiri atas beberapa daun buah.
Melihat bagian – bagian yang terdapat pada bunga maka bunga dapat di bedakan dalam (Tjitrosoepomo, 1995):
1.      Bunga lengkap (flos completusl), yang terdiri atas: lingkaran daun – daun kelopak, lingkaran daun – daun mahkota, lingkaran benang – benang sari dan satu lingkaran daun – daun buah.
2.      Bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna (flos incompletusl), jika salah satu bagian hiasan bunga atau salah satu alat kelaminnya tidak ada. Jika bunga tidak mempunyai hiasan bunga, maka bunga itu di sebut telanjang (nudus), juka hanya mempunyai salah satu dari kedua macam alat kelaminnya, dinamakan berkelamin tunggal (unisexualis). 
Bunga yang mempunyai tenda bunga (perigonium), jadi jika kelopak dan mahkotanya sama bentuk maupun rupanya, sering kali di anggap sebagai bunga yang tidak lengkap pula. Berdasarkan alat – alat kelamin yang terdapat pada masing – masing bunga, orang membedakan(Hidayat, 1995):
a.       Bunga banci atau berkelamin dua (hermaproditus), yaitu bunga yang padanya terdapat benang sari (alat kelamin jantan) maupun putik (alat kelamin betina). Bunga ini sering dinamakan pula bunga sempurna atau bunga lengkap, karena biasanya pun jelas mumpunyai hiasan bunga yang terdiri atas kelopak dan mahkota, misalnya bunga terung (Solanum melongena L.). ditunjukkan dengan lambang: ♀.
b.      Bunga berkelamin tunggal (unisexsualis), jika pada bunga hanya terdapat salah satu dari kedua macam alat kelaminnya. Berdasarkan alat kelamin yang ada padanya dapat dibedakan lagi dalam:
1.      Bunga jantan (flos musculus), jika pada bunga hanya terdapat benang sari tanpa putik, misalnya bunga jagung yang terdapat di bagian atas tumbuhan. Bunga jantan sering kali di tunjukkan dengan lambang: ♂.
2.      Bunga betina (flos femineus), yaitu bunga yang tidak mempunyai benang sari, melainkan hanya putik saja, misalnya bunga jagung yang tersusun dalam tongkolnya. Bunga betina di tunjukkan dengan lambang: ♀.
c.       Bunga mandul atau tidak berkelamin, jika bunga tidak terdapat baik benang sari maupun putik, misalnya bunga pinggir (bunga pita) pada bunga matahari (Helianthus annuus L.).
Penelitian mengenai jenis kelamin bunga, menunjukkan bahwa satu batang tumbuhan, misalnya sebatang tanaman jagung, dapat memperlihatkan dua macam bunga, yaitu bunga jantan yang tersusun sebagai bulir majemuk pada ujung tanaman dan bunga betina yang tersusun sebagai tongkol dan terdapat dalam ketiak – ketiak daunnya. Bertalian dengan kelamin bunga yang terdapat pada suatu tumbuhan, orang membedakan tumbuhan yang (Muzayyinah, 2008):
a.       Berumah satu (monoecus), yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina pada satu individu (satu batang tumbuhan).
b.      Berumah dua (dioecus), jika bunga jantan dan bunga betina terpisah tempatnya, artinya ada individu yang hanya mendukung bunga jantan saja, dan ada individu yang mendukung bunga betina saja.
c.       Poligam (polygamus), jika pada suatu tumbuhan terdapat bunga jantan, bunga betina, dan bunga banci bersama – sama.
Letak bunga pada tumbuhan yang dianggap sebagai poligom yaitu suatu jenis tumbuhan yang bersifat (Parwata, 2009):
1.      Gynodioecus: jika pada suatu individu hanya terdapat bunga betina saja, sedangkan pada individu lain bunga banci. Gejala ini terdapat pada berbagai jenis tumbuhan yang berbunga bibir (Labiatae).
2.      Androdioecus: jika pada individu yang satu hanya terdapat bunga jantan saja, sedangkan yang lain terdapat bunga banci.
3.      Monoeco – polygamus: jika pada suatu individu terdapat bunga - bunga jantan, betina, dan banci bersama – sama.
4.      Gynomonoecus: jika pada suatu individu terdapat bunga betina dan bunga banci bersama – sama.
5.      Trioecus atau trioeco _ polygamus: jika bunga jantan, bunga betina, dan bunga banci masing – masing terdapat terpisah pada individu yang berlainan.
Bagian – bagian bunga yang merupakan metamorfosis daun (kelopak, mahkota, benang sari, dan daun buah)dapat kita jumpai dalam susunan yang berbeda – beda, yaitu (Salisbury, 1992):
a.    Terpencar, tersebar, atau menurut suatu spiral (acyclis).
b.      Berkarang, melingkar (cyclis), jika daun – daun kelopak, benang – benang sari, dan daun – daun buah, masing – masing tersusun dalam suatu lingkaran.
c.       Campuran (hemicyclis), yaitu jika bagian bunga tadi ada yang duduk berkarang, sedang sebagian lain duduk terpencar.
Simetri adalah sifat suatu benda atau badan yang juga biasa di sebut untuk bagian – bagian tubuh tumbuhan, jika benda tadi oleh sebuah bidang dapat di bagi menjadi dua bagian, sedemikian rupa, sehingga kedua bagian itu saling dapat menutupi. Bidang pemisah dapat dianggap merupakan sebuah cermin datar dan bagian yang satu merupakan bayangan cermin bagian yang lainnya. Bidang yang dapat dibuat untuk memisahkan suatu benda dalam dua bagian yang satu sama lain merupakan bayangannya dalam cermin datar, dinamakan bidang simetri (Savitri, 2005). Bunga sebagai suatu bagian tubuh tumbuhan dapat pula mempunyai sifat tersebut, dan bertalian dengan simetri itu dapat dibedakan bunga yang (Savitri, 2008):
a.        Asimetris atau yidak simetris, jika bunga tidak bisa dibuat satu bidang simetri dengan jalan apapun juga.
b.       Setangkup tunggal (monosimetris atau zygomorphus), jika pada bunga hanya dapat di buat satu bidang simetri saja yang membagi bunga tadi menjadi dua bagian yang setangkup.sifat ini biasanya ditunjukkan dengan lambang ↑ (anak panah). Bergantung pada letaknya bidang simetri, bunga setangkup tunggal dapat dibedakan lagi dalam 3 macam (Sulasmi, 2004):
1.       Setangkup tegak, jika bidang simetri berimpit dengan bidang median.
2.      Setangkup mendatar, jika bidang simetri tegak lurus pada bidang median, dan tegak lurus pula pada pada arah vertikal.
3.      Setangkup miring, jika bidang simetrinya memotong bidang median dengan sudut yang lebih kecil (lebih besar) dari 90°.
c.       Setangkup menurut dua bidang, dapat pula dikatakan setangkup ganda, yaitu bunga yang dapat dijadikan dua bagian yang setangkup menurut dua bidang simetri yang tegak lurus satu sama lain.
d.      Beraturan atau bersimetri banyak, yaitu jika dapat dibuat banyak bidang simetri untuk membagi bunga itu dalam dua bagiannya yang setangkup. Bunga yang beraturan sering kali ditunjukkan dengan lambang * (bintang).
Baik dakuncup daun maupun dalam kuncup bunga, bagian – bagiannya yang berupa daun – daun itu terletak yang sedemikian rupa, hingga bagian tumbuhan yang bersangkutan dapat dijadikan tanda pengenal. Mengenai keadaan daun – daun dalam kuncup itu dapat dibedakan dua hal, yaitu (Kartasapoetra, 2004):
a.        Pelipatan daun – daun itu dalam kuncup (vernatio).
b.      Letak daun – daun dalam kuncup terhadap daun – daun lainnya (aestivatio).
Keadaan bagian – bagian bunga, kususnya mengenai kelopak dan mahkota, sewaktu bunga masih dalam keadaan kuncup (Sumardi, 1993).
a.       Pelipatan (vernatio) daun – daun kelopak dan mahkota.
Pada bunga yang masih kuncup keadaan daun – daun kelopak dan mahkota dapat bermacam – macam yaitu:
1.       Rata (vernatio plana).
2.      Terlipat ke dalam sepanjang ibu tulangnya terlipat ke arah adaxial (vernatio conduplicata atau vernatio conduplicata).
3.      Terlipat sepanjang tulang-tulang cabangnya (vernatio plicata).
4.      Terlipat tak beraturan (vernatio corrugativa).
5.      Tergulung ke dalam menurut poros bujur (vernatio involuta).
6.      Tergulung ke luar menurut poros bujur (vernatio revoluta).
7.      Tergulung ke satu arah menurut poros bujur (vernatio convoluta).
8. Tergulung ke dalam menurut poros lintang (vernatio circinatim involuta).
9.    Tergulung ke luar menurut garis lintang (vernatio circinatim revoluta).
10.  Terlipat ke bawah dan ke dalam (vernatio inclinata).
11.  Terlipat menurut poros lintang keluar (vernatio reclinata).

b.      Letak daun – daun kelopak dan mahkota terhadap sesamanya (aestivatio).
Mengenal hal inipun ada bermacam – macam susunan, di antaranya yang sering kita jumpai ialah:
1.      Terbuka (aperta).
2.      Berkatup (valvata).
3.      Berkatup dengan tepi melipat ke dalam (induplcata).
4.      Berkatup dengan tepi melipat ke luar (reduplicata).
5.      Menyirap (imbricata), dapat dibedakan lagi:
a.      Yang terpuntir ke satu arah (convoluta atau contorta).
Jika daun kelopak atau mahkota tampak seakan-akan terpuntir, jika menurut arah putarannya di bedakan menjadi:
1.      Terpuntir ke kiri (sinistrorsum contortus), jika arah putaran sesuai dengan arah putaran jarum jam, sehingg tepi yang sebelah kiri yang selalu di bagian atas menutupi tepi kanan yang sesamanya.
2.      Terpuntir ke kanan (dextrorsum contortum), jika arah putaran berlawanan dengan arah putaran jarum jam, sehingga tepi kananlah yang selalu di bagian atas menutupi tepi kiri sesamanya.
b.      Mengikti rumus 2/5 (quincuncialis). Jika arah putaran tadi menyebabkan letak daun-daun kelopak atau mahkota seperti duduk daun yang mengikuti rimus daun 2/5.
c.         Kohlearis (cohlearis). Mengikuti garis sepiral seperti pada rumah siput. Jika bunga dengan 5 daun kelopak atau lima daun tajuk: 1 daun sama sekali di luar, 1 daun sama sekali di dalam, susunan koheat dapat di bedakan lagi menjadi:
1.      kohlearis visnal atau kohlearis berdekatan (cochlearis paratact), yaitu   daun yang sama sekali di dalam lang sung berbatasan dengan daun yang sama sekali di luar.
2.      kohlearis distal atau kohlearis berjauhan (cochlearis apotact), yaitu jika daun yang sama sekali di luar tidak lang sung berbatasan dengan daun yang sama sekali di dalam. Tapi di antaranya ada daun yang tepinya satu di luar dan yang satu di dalam.
3.      kohlearis turun (adaxial), jika daun yang paling luar letaknya dekat dengan satu sumbu pokok.
4.      kohlearis naik (abaxial), jika yang paling dekat dengan sumbu pokok yang paling dalam, sedang daun yang paling luar menjauhi sumbu pokoknya.
Diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang – penampang melintang daun – daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik, juga bagian bunga lainnya jika masih ada, disamping keempat bagian pokok tersebut. Perlu diperhatikan, bahwa lazimnya dari daun – daun kelopak dan tajuk bunga digambar penampang melintang bagian tengah – tengahnya, sedang dari benag sari digambarkan penampang kepala sari, dan dari putik penampang melintang bakal buahnya. Dari diagram bunga selanjutnya dapat diketahui pula jumlah masing – masing bagian bunga tadi dan bagaimana letak dan susunanya antara yang satu dengan yang lainnya (Hidayat, 1995).
Bagian – bagian bunga duduk diatas dasar bunga, masing – masing teratur dalam satu lingkaran atau lebih. Dalam diagram bunga, masing – masing bagian harus digambarkan sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan digambarkan dengan lambing yang sama. Mengingat bahwa yang digambar pada diagram itu penampang – penampang melintang masing – masing bagian bunga, maka kemungkinan adanya persamaan gambar hanyalah mengenai daun – daun kelopak dan daun tajuk bunga, sedangkan mengenai benang sari dan puyiknya rasanya tidak akan terjadi kekeliruan. Jika membuat diagram bunga, harus memperhatikan hal – hal berikut (Moertolo, 2004):
1.      Letak bunga pada tumbuhan, dibedakan dua macam letak bunga:
a.       Bunga pada ujung batang atau cabang (flos terminalis).
b.      Bunga yang terdapat dalam ketiak daun (flos axillaris).
2.      Bagian – bagian bunga yang akan dibuat diagram tadi tersusun dalam beberapa lingkaran.
Dalam menggambar bagian – bagian bunganya sendiri yang harus diperhatikan ialah:
a.       Berapa jumlah masing – masing bagian bunga tadi.
b.      Bagaimana susunannya terhadap sesamanya
c.       Bagaimana susunannya terhadap bagian – bagian bunga yang lain.
d.      Bagaimana letak bagian – bagian bunga itu terhadap bidang median.
Bagian – bagian lain pada bunga yang seringkali dapat menjadi cirri yang khas untuk golongan tumbuhan tertentu dan sewajarnya pula jika dinyatakan pada diagram bunga antara lain yaitu (Kartasapoetro, 2004):
a.      Kelopak tambahan (epicalyx), umum terdapat pada tumbuhan suku Malvaceae.
b.      Mahkota (tajuk) tambahan (corona), yang biasa terdapat pada suku Asclepiadaceae.
Dalam menyusun diagram bunga kita dapat berpendirian pada (Salisbury, 1992):
1.      Hanya menggambarkan bagian – bagian bunga menurut apa adanya.
2.      Membuat diagram bunga yang tidak hanya memuat bagian – bagian yang benar – benar ada, tetapi juga menggambarkan bagian – bagian yang sudah tidak ada (tereduksi).
Dengan demikian kita dapat membedakan dua macam diagram bunga yaitu:
a.       Diagram bunga empiric, yaitu diagram bunga yang hanya memuat bagian – bagian bunga yang benar – benar ada, jadi menggambarkan keadaan bunga yang sesungguhnya, oleh karena itu diagram ini juga dinamakan diagram sungguh.
b.      Diagram teoritik, yaitu diagram bunga yang selain menggambarkan bagian – bagian bunga yang sesungguhnya, juga memuat bagian – bagian yang sudah tidak ada lagi.

1.      Bunga alamanda (Allamanda cathartica L.)
Klasifikasi      
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Magnoliophyta
Classis             : Magnoliopsida
Sub Classis      : Asteriidae
Ordo                : Ganianales
Familia            : Apocynaceae
Genus              : Allamanda
Species            : Allamanda cathartica L.
(Cronquist.1981)
            Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, bunga alamanda memiliki tipe perbungaan yang disebut rasenosa, yaitu sumbu utama tumbuhan tidak terbatas, monopodial, serta bunga mekar dari bawah sampai ke atas. Mahkota bunga tanaman alamanda memiliki panjang kurang lebih 7 cm dengan mahkota berwarna kuning. Kelopak bunganya terbagi didalam, mahkota bunganya berukuran 7 cm, berwarna kuning dan berbentuk seperti tabung yang pada pangkalnya agak melebar. Benang sari tertancap dalam leher dan tangkai benang sarinya sangat pendek. Tonjolan dasar bunganya berbentukcincin dan berlekuk. Kepala sarinya tebal berbentuk silindris dan terletak di sebelah bawah dengan selaput yang mengarah kebawah.
            Rumus bunga dari bunga kertas *K5 C(5)  A5 G1 dan termasuk bunga banci karena pada satu bunga terdapat dua alat kelamin yaitu alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Mempunyai 5 kelopak dan 5 mahkota bunga yang saling berdekatan, benang sarinya ada 5 dan putiknya ada 1.

2.      Bunga kertas (Bougainvillea spectabilis)
Klasifikasi
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Magnoliophyta
Classis             : Magnoliopsida
Sub classis       : Caryophyllidae
Ordo                : Caryophyllales
Familia            : Nyctaginaceae
Genus              : Bougainvillea
Spesies            : Bougainvillea spectabilis
(Cronquist, 1981)
Bunga bogenvil merupakan bunga yang unik karena memiliki tenda bunga yang seolah-olah menyerupai mahkota bunga dengan warna yang mencolok dan beraneka ragam. Rumus bunga dari bunga kertas ialah *P(3) A(~) G1 dan termasuk bunga banci karena pada satu bunga terdapat dua alat kelamin yaitu alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Mempunyai 3  tenda bunga, benang sarinya tak berbatas dan putiknya ada 1. Bakal buah termasuk ke dalam bakal buah yang menumpang (superus).



3.      Bunga anggrek kalajengking (Arachnis flos-aeris )
Klasifikasi 
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Magnoliophyta
Classis             : Liliopsida
Ordo                : Orchidales
Familia            : Orchidaceae
Genus              : Arachnis
Spesies            : Arachnis flos-aeris
(Cronquist, 1981)                                                                                           
            Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan anggrek kalajengking memiliki rumus bunga ialah ↑ P5 A(2) G1 dan termasuk bunga banci karena pada satu bunga terdapat dua alat kelamin yaitu alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Mempunyai tenda bunga 5 karena mahkota bunga dan kelopaknya berlekatan, benang sarinya ada 2 buah yang lebih kecil serta saling berlekatan dan putiknya ada 1 dari sehelai daun buah. Namun saat dipecah ada 1 buah putik berwarna kuning. Bakal buah termasuk ke dalam bakal buah yang menumpang (superus).

4.      Bunga sepatu (Hibiscusrosa-sinensis L.)
Klasifikasi :
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Magnoliophyta
Classis             : Magnoliopsida
Sub classis       : Dilleniidae
Ordo                : Malvales
Familia            : Malvaceae
Genus              : Hibiscus
Spesies                        : Hibiscus rosa-sinensis L.
(Cronquist, 1981)
            Bunga Sepatu termasuk bunga tunggal karena dalam satu tangkai hanya terdapat satu bunga. Bunga tumbuh pada ketiak daun dan menggantung, memiliki ukuran cukup besar. Bunga sepatu memiliki bagian-bagian bunga yang lengkap, ia merupakan bunga banci karena dalam satu bunga terdapat dua alat kelamin yaitu alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik).
            Bunga sepatu mempunyai bagian-bagian bunga yaitu 5 buah daun kelopak yang saling berlekatan, dan pada bagian luar lingkaran kelopak bunganya masih mempunyai daun-daun yang menyerupai kelopak yang disebut kelopak tambahan yang berjumlah 7 yang juga saling berlekatan, sekilas memang terlihat seperti tidak berlekatan atau terlepas akan tetapi kalau kita perhatikan lebih seksama maka akan tampak bahwa kelopak tersebut memiliki torehan yang dalam, sama seperti halnya pada daun, yaitu torehan berupa berbagi. Daun mahkota berjumlah 5 berbentuk bulat telur terbalik berwarna merah. Mahkota bebas satu sama lain tetapi pada pangkal seringkali berlekatan dengan buluh yang merupakan perlekatan tangkai-tangkai sarinya dengan benang sari yang sangat banyak jumlahnya, dan putik yang terjadi dari 5 daun  buah.  Bakal buah pada bunga sepatu merupakan bakal buah yang tenggelam (inferus). Sehingga rumus bunga Sepatu yaitu ♀ * K (5)+(7) C5 A~ G(5).

5.      Bunga tasbih (Canna  sp)
Klasifikasi
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Magnoliophyta
Classis             : Magnoliopsida
Ordo                : Zingiberales
Familia            : Cannaceae
Genus              : Canna
Spesies            : Canna  sp.
(Cronquist, 1981)
Bunga Tasbih merupakan bunga majemuk, dan memiliki bagian-bagian bunga yang lengkap seperti tangkai bunga, dasar bunga, kelopak, mahkota, benang sari dan putik. Karena memiliki dua alat kelamin dalam satu bunga itulah bunga Tasbih tergolong menjadi bunga banci (hermaphroditus). Bunga tasbih adalah bunga majemuk yang mempunyai karangan bunga yang kerap kali bercabang, bunga dalam bulir atau tandan, tangkai pendek atau duduk, kelopak daun tidak sama dan kerap kali berwarna seperti mahkota serta bunganya tidak simetri. Benang sari memiliki warna yang menarik yang membuat bunga ini indah.
Bunga tasbih mempunyai 3 daun kelopak yang tidak berlekatan, 3 daun mahkota yang bebas, 5 benang sari yang menyerupai mahkota bunga yang biasanya berwarna kuning dengan bercak orange yang saling lepas atau tidak berlekatan, dan  putik yang melekat yang berasal dari 3 daun buah, bakal buahnya merupakan bakal buah yang tenggelam atau inferus. Sehingga rumus bunganya   ♀ K3 C3 A5 G(3).

6.      Bunga teratai ( Nymphaea lotus )
Klasifikasi
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Magnoliophyta
Classis             : Magnoliopsida
Sub classis       : Magnoliidae
Ordo                : Nymphaeales
Familia            : Nymphaeaceae
Genus              : Nymphaea
Spesies            : Nymphaea lotus
(Cronquist, 1981)
            Tumbuhan ini biasanya hidup di selokan atau genangan air yang tidak dalam. Bunga ini mempunyai warna yaitu ; merah muda dan putih. Bunga teratai bunga banci karena dalam satu bunga memiliki dua alat kelamin yaitu putik dan benang sari. Bunganya tidak dapat dibedakan antara kelopak bunga dan mahkotanya sehingga ia memiliki tenda bunga. Bunga teratai memiliki benang sari yang terkumpul berbentuk pipih yang terletak di sebelah dalam tenda bunga. Putik tidak berlekatan satu sama lain tetapi kepala putiknya memusat pada satu titik sehingga seperti lingkaran.
               Tenda bunganya terletak dalam 6 buah lingkaran, adapun susunan dari lingkaran terluar sampai yang paling dalam adalah 4 + 4 + 8 + 8+7 , dan Semakin dewasa bunganya maka semakin banyak pula lapisan susunan tenda bunganya. Benang sarinya berjumlah banyak dan tidak saling berlekatan. Ia memiliki sebuah putik. Bakal buahnya termasuk bakal buah yang setengah tenggelam (hemi inferus),  Sehingga rumus bunganya adalah ♀  * P4+4+8+8+7  A~ G1.

 VI.            KESIMPULAN
1.      Diagram bunga merupakan suatu gambaran proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang yaitu daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari dan putik, juga bagian-bagian lain.
2.      Rumus bunga adalah lambang-lambang yang digunakan untuk menunjukkan sifat-sifat bunga berupa singkatan huruf dari bagian pokok bunga yaitu :
Huruf K untuk kelopak bunga (calyx)
Huruf C untuk mahkota bunga atau tajuk bunga (corolla)
Huruf A untuk benang sari (androecium)
Huruf G untuk putik (gynaecium)
Huruf P untuk tenda bunga (perigonium)
3.      Lambang-lambang lain yang digunakan di depan rumus bagian bunga yakni :
a)      Simetri bunga yaitu (*) untuk untuk bunga bersimetri banyak dan tanda (↑) untuk bunga bersimetri satu.
b)      Jenis kelamin bunga yaitu untuk bunga banci dipakai lambang (♀), untuk bunga jantan dipakai lambang (♂) dan bunga betina dipakai lambang (♀).
c)      Tanda kurung yaitu untuk keadaan antara daun-daun kelopak, tajuk, dan benang sari (berlekatan atau terpisah)
d)     Tanda koma (,) yaitu untuk menghubungkan antara huruf dan angka.
4.      Diagram dan Rumus bunga dapat dibuat dengan memperhatikan alat kelamin, simetri pada bunga atau jumlah-jumlah bagian bunga itu sendiri, seperti kelopak bunga (calyx), mahkota bunga atau tajuk bunga (corolla), benang sari (androecium), putik (gynaecium) dan tenda bunga (perigonium).
5.      Berdasarkan hasil pengamatan saat praktikum yaitu :
1.      Bunga alamanda ( Allamanda cathartica L.)
♀ * K5 C(5)  A5 G1
2.      Bunga teratai ( Nymphaea lotus L.)
* P4+4+8+8+7  A~ G1
3.      Bunga tasbih ( Canna sp. )
K3 C3 A5 G(3)
4.      Bunga sepatu ( Hibiscus rosa – sinensis L.)
* K (5)+(7) C5 A~ G(5)
5.      Bunga kalajengking ( Arachis flos aeris )
↑ P5 A(2) G1
6.      Bunga kertas ( Bougainvillea spectabilis )
*P(3) A(~) G1






VII.            DAFTAR PUSTAKA
Anonim.a.2013.http://www.google.co.id/imgres?q=bunga+alamanda&start=164&hl=id&cl=firefox-a&hs=HwP&sa=X&rls=org.mozilla. Diakses pada 17 April 2013.

Anonim.b.2013.http://www.google.co.id/imgres?q=bunga+kertas&hl=id&sa=X&biw=1366&bih=631&tbm=isch&prmd. Diakses pada 17 April 2013.

Anonim.c.2012.http://www.google.co.id/imgres?q=anggrek+kalajengking&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla. Diakses pada 17 April 2013.

Anonim.d.2013.http://www.google.co.id/imgres?q=kembang+sepatu&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla. Diakses pada 17 April 2013.

Anonim.e.2013.http://www.google.co.id/imgres?q=canna+sp.&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla. Diakses pada 17 April 2013.

Anonim.f.2013.http://www.google.co.id/imgres?q=bunga+teratai&start=138&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla. Diakses pada 17 April 2013.

Anonim.g.2013. http://qurrotaayunc.blogspot.com. Diakses pada 17 April 2013.

Anonim.h.2013. http://www.kabarlamongan.com. Diakses pada 17 April 2013.

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi 3. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada Press.

Hidayat, Esteti, B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB Press.

Kartasapoetra, Drs, G. 2004. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Moertolo. 2004. Daun Dan Alat Tambahan. Malang: UM Press.

Muzayyinah. 2008.Terminologi Tumbuhan. Surakarta: PT. Lembaga Pengembangan Pendidikan.

Parwata, Oka Adi, dkk. 2009. Isolasi dan Uji Antiradikal Bebas Minyak Atsiri Pada Bunga Anggrek Secara Spektrokopi Ultra Violet – Tampak. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana: Bukit Jimbaran.

Salisbury, Frank. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. ITB: Bandung.

Savitri, Evika Sandi. 2005. Anatomi Tumbuhan. Malang: Universitas Islam Negeri Malang.

Sri Amintarti. 2011. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. PMIPA                             FKIP UNLAM: Banjarmasin.

Sulasmi. 2004. Macam – Macam Tanaman Dataran Tinggi dan Rendah. Bogor: IPB Press.

Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.

Tjitrosoepomo, Gembong.1994. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada                                  University Press. Yogyakarta.




0 komentar:

Poskan Komentar